HILL DEEP

SuicideSouls - Well, aku melihatnya ketika ada di Bar, bersama dengan mataa-mata pria yang memandangku aneh, ekspresi mereka seolah mengatakan ada sesuatu yang tidak aku ketahui. Mata yang awalnya hangat berubah seketika menjadi dingin ketika mereka mendengar nama ”Hill Deep”.

Ada satu hal yang ku ingat ketika memandang gadis bar, aku tidak tahu apakah dia seorang tunawicara ataukah dia hanya memberikan pesan bersyarat kepadaku namun aku mampu membaca gerakan tanganya, gemertak bibirnya, dia mengatakan tentang sesuatu yang mengerikan.

Gadis itu mengatakan dengan gerak tanganya “Nona. Siapapun kau, jangan menuju tempat itu. Salah satu tempat terburuk yang akan kau temui. Mimpi terburuk yang tidak akan pernah kau lupakan, kegelapan tanah itu begitu mencekam, setiap detik akan selalu ada yang membuatmu menggigil menusukmu hingga ke sel-sel tulangmu. Tanah terkutuk itu adalah tempat terlarang, pergilah, tanggalkan tugasmu karena kau tidak tahu apa yang ada disana”

**

aku masih mengingat begitu jelas pesan itu. Namun, kini aku melihat kerumunan penduduk, banyak di antaranya adalah para petani, mereka mengerumuniku menatapku dengan senyuman ramah khas penduduk desa yang selama ini tak pernah ku temui di kota besar.

Berkali-kali mereka memberikan hasil kebunya kepadaku, ubi, jagung apapun dan berterima kasih padaku, padahal, aku belum melakukan apapun untuk mereka. Aku hanyalah dokter magang yang akan bertugas di tempat ini untuk 18 bulan ke depan.

Si tua Ronald menyarankanku untuk beristirahat, sementara aku tidak enak bila harus mengacuhkan puluhan penduduk yang sudah antusias menyambutku, beberapa saat kemudian aku mendengar ringkikkan kuda-kuda dan sebuah kereta kayu di belakangnya. Si tua Ronald memberitahuku bahwa tuan tanah disini sudah tiba, mereka biasa memanggilnya “Asvrea” salah satu keluarga bangsawan yang mengelola tanah di wilayah ini.

Ketika kuda sudah berhenti, sang pengawal melangkah turun, membukakan pintu dan seorang pria muda dengan setelan khas bangsawan dan topi bundar melangkah keluar dengan anggun, pria muda itu mengenakan tongkat meski langkahnya kuat. Sekilas aku melihat hal aneh yang terjadi, beberapa penduduk menghindari tatapan pemuda itu, dan beberapa menjauh beberapa langkah darinya.

Pria muda itu mendekatiku, menyapaku dengan anggun, sopan santun khas masyarakat elite dan dia memberikan kecupan di tanganku tanda bahwa dia menghormati seorang wanita.

Aku memberikan senyuman tertulusku yang ku rasa tidak bisa ku tutupi, mengingat sejujurnya aku membenci hal-hal bebau monarki. Keterbatasan derajat, atau apapun yang membedakan sebuah kasta.

“senang bertemu dengan anda nona Abigail. Seperti yang ku dengar dari pesan yang di antar beberapa hari yang lalu, anda sangat cantic, dan saya juga mendengar beberapa hal baik saat anda masih menjadi seorang pelajar di”

Aku memotong pembicaraanya dengan mengatakan “terimakasih atas pujianya” dia tersneyum anggun berusaha melupakan ketidaksopanank
u, kemudian kami terlibat pembicaraan basa –basi sembari berjalan mengelilingi desa, dia menjelaskan bahwa keluarganya merupakan tuan tanah di wilayah ini sejak 100 tahun yang lalu, dan dia yang bernama “Patricius Asvrea ke 27 atau aoalah gelar yang ia dapat merupakan penerus sah dari ayahnya yang meninggal 2 tahun yang lalu.

Patricius, memiliki rambut pirang dengan tinggi semampai, bertubuh tegap dengan dua bola mata biru khas bangsawan pada umumnya, caranya bersikap membuatku yakin dia sudah lama di latih untuk menjadi seorang bangsawan sejak kecil, sikapnya angkuh namun anggun menutupi segala keburukan dari sifat bangsawan yang selama ini ku temui di kota, kasar dan pemarah, sebaliknya justru sifat tenang dan dingin yang di tunjukkan olehnya membuatku waspada.

Kami melewati berbagai lading jagung, gandum dan tanaman khas kebun lainya, kami juga melihat ternak dan apapun yang ada di desa ini, ketika kami berjalan bersama, beberapa penduduk tampak tidak memperhatikan kami, terkesan menghindari kami, sangat jauh berbeda dari apa yang mereka tunjukkan kepadaku sebelumnya.

Patricius, menunjuk sebuah rumah mewah di dekat balai kota, disana dia sudah mempersiapkan semuanya, seorang wanita yang bernama Madeline agree, sudah cukup tua namun telaten dan sudah menjadi pelayan di rumahnya sejak lama kini akan menjagaku selama tinggal di Hill Deep, aku berterima kasih padanya berharap dia cepat pergi agar aku bisa memulai pekerjaanku lebih dini, namun sebelum melangkah pergi. Si tuan muda Patricius mengatakan sesuatu yang membuatku merinding ketika dia mengatakan “Bukit berhantu”

“Nona Abigail aku menghormati anda selayaknya aku menghormati ibu saya sendiri, namun perlu saya katakana sesuatu yang harus anda ikuti, sebuah aturan turun temurun untuk pendatang ataupun semua orang yang ada disini. Kami biasa memanggilnya bukit berhantu, anda mendapatkan akses untuk mendatangi semua tempat, mengunjungi setiap warga demi pekerjaan anda untuk menyembuhkan masyarakatku namun jangan pernah sekali-kali mendatangi tempat itu.
Tepat di utara, terdapat sebuah gerbang tua dari besi, di pagarnya terdapat patung wanita menangis, di baliknya jauh dari gerbang itu ada sebuah pohon tua Mapeline, dan di sampingnya ada sebuah Mansion tua, sebuah mansion terlarang, aku tidak bisa menjelaskan apa yang ada disana, karena aku sendiri tidak boleh mengunjunginya, namun kami disini percaya, pergi kesana hanya akan mendatangkan sebuah kutukan dan keburukan. Untuk itu, nona Abigail, jangan membuat pilihan yang salah disini. Ku harap anda mengerti”

Kengerian seketika menyelubungiku, dan sesaat sebelum pria itu melangkah pergi, langit berubah menjadi mendung dan petir mengelegar membuaku tersentak, pria muda itu tersenyum lalu melangkah masuk ke kereta kudanya, “sebentar lagi akan hujan, anda bisa memulai pekerjaan esok hari, ku harap kau bisa beristirahat dengan tenang”

Kepergian pria itu, meninggalkan tanda Tanya terbesarku.

Sebuah pertanyaan terdalamku. Apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini?

0 Response to "HILL DEEP"

Post a Comment

Komentar dengan link hidup akan dihapus.